Kamis, 10 Januari 2019





PAHLAWAN BERDASTER


Disebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu muda berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati yang telah dinantikan sekian lama. Setiap tarikan nafas yang dia gunakan untuk membantu mendorong sang buah hati agar dapat lahir seakan membuatnya meregang nyawa dan memutuskan ribuan urat sarafnya. Namun hal itu seolah tidak dihiraukan. Yang terlintas dibenaknya hanyalah keinginan untuk dapat melewati proses persalinan itu dengan sesegera mungkin agar ia dapat melihat dan menggendong buah hatinya.


Sementara ditempat yang berbeda, seorang ibu yang terbilang sudah berumur namun baru akan dikaruniai anak, juga sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan buah hati yang menjadi dambaan jiwanya. Namun bedanya, ia menggunakan jasa dukun beranak untuk membantu persalinannya karena ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya klinik bersalin apalagi rumah sakit. Resiko kematian akibat melahirkan ditangan dukun beranak jauh lebih tinggi. Namun hal itu seolah tidak memberikan rasa takut. Malah sebaliknya, perasaannya justru dipenuhi oleh semangat seorang ibu yang akan memiliki seorang buah hati yang sudah lama di idam-idamkan apalagi proses melahirkan ditemani oleh suami tercinta yang tak pernah lepas dari genggaman tangannya.

BENARKAH ANGGOTA LEGISLATIF WAKIL RAKYAT?


Pesta demokrasi 5 tahunan masih beberapa bulan mendatang. Namun aroma politiknya sudah sangat tajam tercium bahkan sejak di beberapa bulan terakhir. Partai peserta pemilu semakin gencar memasarkan program-program partai yang tertuang dalam visi misinya. Disamping para kandidat calon wakil rakyat yang juga sibuk melakukan sosialisasi dan deklarasi.

Tak bisa dipungkiri bahwa, diperhelatan pemilu serentak ini, rata-rata para kandidat menawarkan janji yang entah bisa dipenuhi jika terpilih nantinya atau tidak, selama itu bisa meraup suara mayoritas, hal seperti itu tampaknya sudah menjadi kelaziman. Janji manis yang muncul setiap 5 tahun sekali masih terbilang ampuh untuk melumpuhkan logika para pemilih terutama yang berusia 50 tahunan ke atas yang tak mau banyak tau urusan politik.